Minggu, 28 Februari 2010

Ihsan adalah Tujuan

Ihsan adalah Tujuan

Kesimpulan dari pembagian martabat dalam beragama adalah ihsan, 3 hal tersebut tidak dapat dipisahkan bahkan saling mengauatkan, dan pengamalannya berdasarkan Tingkatan. Menjalankannya beruutan hingga pada akhirnya mencapai kederajat Ihsan. Jikalai seorang hamba baru melaksanakan hokum syariat secara dhohir saja maka ia baru melaksanakan 1/3 dari agamanya . kesemua tingkat tersebt harus terlaksana dan trlewati sebagaimana firmanNya;
“tsumma ittaqou wa ahsinuu wa allohu yuhibbu al muhsiniin”
“inna alloha ma’a al lazdina jaahaduu fiina lanahdiyannahum subulanaa wa inna alloh ma’a al muhsiniin”
“inna rohmata allohi qoriibun min al muhsiniin”
Beeradasarkan aya-ayat diatas menjelaskan bahwa setiap hamba berkwajina secara pribadi “fardhu aini” untuk selalu meneladani dan menguti jejak para al muhsiniin, baik di duania dan akhirat. firmanNya;
“inna al muttaqiin fi jannaatin wa ‘uyuunin farihiina bima aataahum robbuhum innahum kaanuu qobla dzaalika muhsiniin. Kaanu qoliilaan min all alaili yahja’uuna wa bi al ashari hum yastaghfiruna wa fi amawalihim haqqun li assaailiin wa al mahruum”
Rukun Islam dan Sunnahnya

Sebagaimana hadist mengatakan bahwa amalan sunnah adalah amalan penyempurna bagi setiap amalan fardhu, jikalau ada amalan fardhu yang kurang sempurna. Karena amalan yang pertma kali di haisab adalah amalan fardu, jikalau baik fardhunya maka baiklah seluruh amalannya, jikalau tidak sepurna maka amalan suannah lah yang akan menyempurnakannya.
1. As syahadah adalah rukun islam yang pertama. Yang pertama adalah persaksian bahwa tiada tuhan selain Alloh dan yang kedua persaksian terhadap Muhammad adalah utusanNya. Keduanya adalah wajib diucapkan bagi setiap hamba yang muslim. Adapun sunnah dari syahadat tesebut amalan yang hanya dikhusus kan oleh Alloh untuk umat Muhammad saw. Amalan sunnah dari syahadat yang pertama adalah zikir dengan aneka macamnya. Yang didalam al-Qur`an mereka dikenal dengan sebutan Ahlu dzikri. firmanNya ; “fasaluu ahla adz dzikri inkuntum la ta’lamuun”
Adapun sunnah dari persaksian yang kedua adalah bershalawat dengan enka macam lafaz dan tingkatannya. Hal tersebut dipertegas dalam Al Qur`an ;
“qod aflaha man tazakka wa dzkara isma robbika fa sholla” (Sungguh beruntung orang yang membersihkan hati dan jiwanya dari segala kotoran, dan kemudian berzikir dengan menyebutkn nama tuhannya “ALLOH”, dan kemudian bersholawat).
Tazakka bentuk kata kerja dari masdar at tazkiyah yang berarti pembersihan jiwa; pembersihan dari segala kotoran yang menumpuk dan mengotoi kebersihan hati, dalam al qur`an kotoran tersebut sikenal dengan “Al-Ron”, hal itu diakibatkan kemaksiatan dan dsa yang dilakukan detiap harinya.
FirmanNya; kalla bal roona ‘ala quluubihim maa kaanu yaksibuun”
Sabda nabi ; “inna al ‘abda idz akhthoa khothiatan nakata fi quluubihi nuktatan sauda`, fa in huwa naza’a wa istaghfaro wa taaba taqula qolbuhu, fain ‘ada ziida fiiha hattaa ta’luu qolbuhu fahuw alladzi al roon” (H.R. An nasai dari abu hurairoh.)
Hasan bashry seorang sufi yang hidup di zaman tbi’in menambahkan pengertian al roon, ia adalah bertambah dan bertumpuknya dosa hingga mengakibatkan hati buta dan akhirnya mematikannya.

Makna As Sholah dalam lanjutan ayat diatas, bisa bermakna banyak dianaranya adalah do’a, sholat, atau shalawat.
Mari kit bahas bersama guna menentukan manakah mankna yang paling bersesuaain dengan text diatas. Pertama andaikan As Sholah diartikan sholat dardhu, maka kurang tepat karena alloh telah meletakkan as sholah didahului oleh dzikir, yang merupakan ibadah sunnah. Jadi dengan pendekatan ini assholah bermakna sholawat terhadap nabi Muhammad saw.

Dapat ditarikkesimpulan dari penjelasan diatas, barang siapa yang tidak mengamalkan sunnah syahadat (zikir dan shalawat), maka ia termasuk orang yang mengingkari sunnah dan al qur`an.
Firman Nya ; “yaa ayyuha allaldziina aamanuu, udzkuruu alloha dzikron katsiirn”
“wa adz dzzkiriina alloha katsiiron wa adz dzaakirooti”
Sabda nabi ;”maa yazaalu yatqoorobu ilayya bi annawafili hatta uhibbuhu”

Martabat Ihsan (Derajat Ihsan)

Martabat Ihsan (Derajat Ihsan)

Ihsan adalah suatu ilmu yang di anugrahkan Alloh kepada Nabi Muhammad saw, namun diperintahkan untuk merahasiakannya dikala peristiwa Isra` dan mi’raj, dikarenakankeagungannya. Ilmu ini juga dikenal dengan ilmu al Yaqin (dalam istilah Al Qur`an),atau Ilmu Al Haqiqah (dalam istilah Tasawwuf).
Amalana pada tingkat ini juga di sebut Al Abudah, yang ketaatan dan amalan ibadahnya semuanya berhubungan dengan ruh. Adapun pembagian ihsan terbagi menjadi 2 bagian ;

1- Ihsan Shoghir ;Sebagaimana sabdanya ;”an ta’buda alloh ka annaka tarohu” (Engau emnyembahnya seperti halnya engkau melihatNya).

2- Ihsan Kabir ; “fa in lam takun tarou fa innahu yaroka” (jikalau engkau tidak bisa melihatya, maka beribadahlah kepadaNya sesungguhnya Ia melihatmu).

Deerajat ini adalah derajat yang pernah dicapai oleh para sahabat nabi yang diantaranya adalah ; Sayyidina Abu bkar As Siddiq, Dikala beliau mampu melihat sesuatu dirahim anaknya, Sayyidina umar bin Khittob ra, dikala beliau berbicara dan mengomando sekelompok pasukan muslimin yang sedang berperang, namun disaat itu beliau sedng berkhutbah tanpa hadir langsung di medang perang. Ali Bin Abi Tholib, dan Asif Bin barhiya, adalah sosok wali yang hidup dikala zaman nabi Sulaiman As, dikala beliau mampu memindahkan singgasana Ratu Balqis dalam kejapan mata. Maka tidaklah mengherankan jikalau seorang hamba pada tataran ini dikarunia ilmu dan kemampuan yang sangat luar biasa, tidak ada yang samar, dan kabur dihadapannya, Al Qur`an dihadapannya adalah muhkam semuanya, tidak ada yang mutasyabih baginya, sebagaimana di firmankan oleh Alloh dalam surah al imran ayat 7 ; “wa ma ya’lamu ta`wilahu illa allohu wa arrosikhuuna fi al ilmi”. Karena mereka di anugerahi sifat-sifat yang dimiliki oleh Alloh swt.



- Tatacara amalan takwanya adalah dengan pengenalan yang mendalam terhadap Alloh swt, sebagaimana sabda beliau saw, “ana a’rofukum bi allohi, wa ana akhwafukum minhu” (saya adalah orang yang paling mengenalNya dan paling takut diabanding kalian).

Tingkatan-tingkatan (maqom) pada martabat Ihsan disusun menjadi 5 tingkatan;
1. At taufiq; adanya kesesuaian antara keinginan hamba dengan apa yang diperintahkan oleh Alloh swt, firmanNya “wa ma taufiqii illa billahi”
2. At tafwid; (tarku al hillah) adalah bentuk amalan dengan meninggalkan aneka macam cara dikala cara dan pintu keluar sudah tertutup. Pada tatarn ini seorang hamba percaya bahwa yang diberikan kepadanya adalah hal yang terbaik untuknya, sihingga tidak protes atas segala takdirNya. firmanNya “wa ufawwidu amri ila allohi”
3. At tawakkal; adalah derajat yang dicapai oleh nabi luth as.
4. At taslim ; adalah maqam tertinggi dalam keakwaan kapadaNya, sebagaimana dicontohkan oleh nabi Ibrahim as, disaat beliau diceburkan kedalam kobaran api, kemudian datanglah malakat Jiril menawarkan pertolongan sambil berkata ;”apakah engaku perlu bantuan?” Ibrahim as menjawab ;”jaikalau bantuan itu datangnya dari engkau maka aku tidak membutuhkannya, namun jika dari Alloh swt, maka cukuplah Alloh mengetahi akan keberadaanku sekarang”.
FirmanNya ;”idz qola lahu robbuhu aslim, qoola aslamtu li robbi al ‘alamin” dan “balaa man aslama wajhahau lillahi wahuwa muhsin”.
5. Al mahmud ; Tingkatan khusus yang khusus Alloh berikan kepada nabi Muhammad saw, yaitu hanya kepada kekasihNya. Disebut juga “maqom wikalah nabawiyah”.
FirmanNya ; “la ilaha illa huwa fattakhidzhu wakiila”
Istiqomah ibadahnya adalah dengan terus menerus musyahadah; melihat Alloh dalam segala amalan dan perbuatan. Jikalau lalai maka itu adalah dosa nya dan cara bertaubatnya adalah dengan kembali bermusyahadah.
FirmanNya ; “maa zaagho al bashoru wa maa thogho”
Mereka bertawassul dengan hamba-hamba yang benar-benar dekat dengan Alloh swt, dan mulia di sisiNya, seperti para Nabi dan Auliya.
Seperti halnya yang pernah dilakukan rasul disaat wafatnya Fatimah binti asad beliau bersabda ; “allohumma inni atawassalu ilaika binabiyyika wa al auwliyai min qoblii”

Martabat Iman (Derajat keiamanan)

Martabat Iman (Derajat keiamanan)
Adalah suatu ilmu yang diperbolehkan bagi nabi Saw, untuk menyampaikannya, yang beliau peroleh disaat beliau melakukan isra` dan mi’raj. Ilmu ini juga dikenal dengan istilah ilmu Ainu al yaqin dan Ilmu Thoriqoh dalam istilah Al Qur`an.
- Setiap amalan pada tingkatan ini berada pada tataran ubudiyyah; yaitu amalan yang di lakukan tanpa mengahrap keuntungan apapunn dari –Nya, atupun terhindar dari segala mara bahaya, Namun amalan itu justru dilakukan juga oleh hati, begitu pula zikirnya dengan menggunakan “qolb” hati. (Zikru Al Qolb).
- Cara bertkawanya adalah dengan menjaga anugerah yang telah diberikan Alloh, seperti selalu mengagungkan syi’ar Nya.

“wa man yu’adhim sya’airilah fa innaha min taqwa al qulub” (barang siapa yang menagungkan syi’ar Alloh, maka sesungguhnya Ia adalah bagian dari amalan hati yang bertaqwa)

- Dosa pada tataran ini adalah segala hal yang menyebabkan lupa untuk selalu berzikir atau ingat kepada-Nya. Jikalau berdosa maka cara bertaubatnya adalah dengan kembali berzikir. Sebagaimana firman-Nya,

“wa la takun min al ghofilin” (janganlah engkau menjadi bagian darii orang yang lalai -mengingatku-)

- Keistiqomahan pada tingkatan ini adaah selalu zikir, dan cara bertawassulnya adalah dengan asma-asma ilahiyah “asma al husna”. Yang pada akhirnya dapat menyapaikan kederajat kecintaan kepada Alloh dan rosul-Nya, sebagaimana hadist riwayat muslim;

“al iman bid’un wa sab’un su’batan, afdholuha qoulu La ila ha illa alloh”, wa adnaha imathotu al adza ‘an at ththoriqi”.

- Ibadah Sunahnya adalah zikir dan shalawat kepada nabi, sebagaimana umumnya muslim, setelah melakukan ibadah yang dilakukan badaniah pada tataran islam dengan pelaksanakan rukunnya, maka sunnah nya adalah dengan menambahkan perkara sunnah dalam setiap pelaksanaa wajib dalam rukun islam,
1. seperti zikir dan shlawat adalah amalan sunnah dari badah wajib syahadat,
2. Aneka macam Shalat sunnah adalah amalan sunnah dari rukun yang kedua yitu melaksanakan ibadah wajib.
3. Sedekah adalah amalan sunnah dari pelaksanaan zakat,
4. Puasa sunnah adalah ibadah tambahan selain pelaksanaan fardu berpusa.
5. Terakhir umrah dan haji adalahamalan sunnah setelah pelaksaan wajib Haji.

Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, amalan sunnah adalah payung dari amalan fardhu, sebagaimana firmanNya dalam hadist Qudsi.
“wa la yazaalu ‘abdii yataqorrob ilyya bi annawafil hatta uhibbuh” (Aku akan selalu mencintai hamba yang selalu mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnahnya).

Martabat islam “Derajat ke-islman”

Martabat islam “Derajat ke-islman”

Sebagaimana telah di singgung di atas, bahwa martabat islam dapt disebut dengan
‘ilmu al yaqin. Dalam bahasa Al Qur`an, islam adalah ilmu yang diperintahkan Nya, kepada nabi agar di sampaikan kepada ummat.
“yaa ayyuha arrosul, balligh ma unzila ilaika min robbika” (wahai Rasul sampaikanlah

-kepada ummatmu-, apa yang telah Aku turunkan kepadamu).

Secara umum martabat islam, adalah ilmu Asy syari’ah; Yang membahas hukum atau muamalah secara lahiriah saja. Sedangkan pelaksanaan pada tingkatan ini disebut juga dengan ibadah badaniah yang dilaksanakan oleh anggota badan, sebagaimana yang pelaksanakan ketika menjalankan seluruh rukun dalam islam.

- Pengucapan syahadat, diemban oleh lisan, sholat dilaksanakan oleh seluruh anggota badan, begitu pula dengan Haji, Puasa dan Zakat. Kesemuanya adalah amaliyah badaniah, yang tidak akan terlaksana sempurna jikalau badan tidak sempurna.

- Adapun Tingkatan dosa yang dilakukan pada tingkatan ini, juga merupakan amalan yang dilakukan badan, misalnya ; mencuri, minum khamr, zina, membunuh dll.

- Adapun cara bertaubatnya adalah dengan melepas dan meninggalkan seketika, dengan disertai rasa sesal atas hal yang telah dilakukan kemudian berniat untu tida melaukan nya kembali dimasa selama- lamnya.

- Diperbolehkan bagi hamba yang masih dalam tingkatan ini, bertaawassul dengan amalan badaniahnya, sebagaimana cerita 3 pemuda yang terjebak reruntuhan didalam Gua, hingga ia tidak bisa keluar, namun mereka berdoa kepada Alloh dengan menyandarkan doanya dengan amalan-amalan yang telah mereka lakukan sebelumnya, dan atas seizing-Nya terbukalah pintu Gua tersebut, Sebagaimana di ceritakan dalam hadist.

- Pada tingkatan ini pula, seorang hamba juga diperintahkan bezikir; Cara berzikirnya pun masih sebatas penggunaan anggta tubuh yaitu lisan, yang dikenal dengan sebutan Zikru Al lisan; Ia adalah termasuk dari zikru al-qolil; adalah Zikru al ghoflah, serta zikir pada tahapan ini adalah kalimat thoyyibah “laa ilaaha illa alloh”.

Definisi al ibadah, al ubudiyah, dan al ‘abudah

Perbedaan Definisi ibadah, ubudiyah, dan al ‘abudah
1. Al ‘ibadah adalah sesuatu amalan yang dilakukan oleh hamba, guna mendapatkan ridha dari tuannya, agar masuk kedalam surganya, dan dijauhkan dari siksanya di neraka. Tingkatan amaliyah ini merupakan Tingkatan paling mendasar dalam kehambaan, atau di sebut dengan Tingkatan islam / Ilmu al yakin / Ilmu syariah.
2. Al ‘Ubudiyyah adalah amalan seorang hamba, yang dilakukan untuk mencari keridhoan Alloh Swt, tanpa mengharapan balasan apapun dari Nya. Tingkatan ini di sebut dengan Martabat Iman, Tau Ainul Yaqin, ilmu Thoriqoh.
3. Al ‘Abudah adalah ketaatan seorang hamba untuk mencari ridho Alloh Swt, yang di di landasi atas anugrah alloh untuknya, bahwa ketaatannya adalah berasala dari pertolonga-Nya, dan kekuatan-Nya tanpa henti.

Tingkatan ini di khususkan bagi para orang shalih, yang telah mencapai pada martabat al ihsan

Sejalur dengan ini mari kita cuplik petikan dari sayyidi Ibrahim al qursyi ad dasqi Ra, Beliau Berkata : “berhati-hatilah wahai engkau saudaraku, dikala engkau mengaku-aku, bahwa engkau telah melakukan perbuatan, atas kehendakmu sendiri, ketahuilah bahwa jika engkau berpuasa, maka sungguh Alloh Swt, telah emberimu kemamuan untuk itu”.

Maratib Ad Diny “Tingkatatan dalam agama”

Maratib Ad Diny “Tingkatatan dalam agama”

Martbat dalam agama islam terbagi menjadi 3 tingkatan yaitu:
1. Islam
2. Iman
3. Ihsan

Sebagaimana di jelaskan dalam hadis dikala nabi Saw, dan para sahabat sedang berkumpul, tiba-tiba didatangi oleh seseorang, yang ternyata seseorang itu adalah malaikat dalam rupa manusia, menanyakan kepada beliau tentang hakikat dari islam islam, iman, dan ihsan, dan hari akhir.

Pembagian tersebut jg dikuatkan leh al Qur’an namun dengan istilah lain, namun memiliki kesamaan tujuan :

1. Ilmul yakin (islam) “kalla lau ta’lamuuna ilma al yaqiin, latarawunna al jahiim”
2. Ainul Yakin (Iman) “ tsumma latarawunnaha a’ina al yaqin”
3. Haqqul yakin (Ihsan) “ inna hadza lahuwa al yaqiin”

Dalam versi lain, maratib addin juga dikenal dengan bahasa yang lain, diantaranya adalah “
1. Ilmu syari’ah
2. Ilmu thariqoh
3. Ilmu Haqiqah

kisah asmu'i dan zainal abidin; cucu rasul

Ma kullu ilmin yustafadu dirosatuhu * la siyaman ilmuna az zahru al wahbiyyu
“Tidaklah semua ilmu hanya bisa dicari dengan mempelajarinya, namun ilmuku adalah pemberian dari sang maha mengetahui”.

Ilmu sufi adalah ilmu wahbi ; ilmu pemberian langsung dari Alloh swt, uang didapat hanya dengan jalan ketakwaan.
Sebagai penegas akan hal tersebut mari kita simak cerita menajubkan dari seorang tokoh panutan kita, zainal abidin cucu dari nabi Muhammad saw.

Diriwayatkan dari al asmu’I, bahwasannya beliau pernah berjumpa dengan sekelompok anak-anak yang sedang asik bermain dengn cerianya, namun dalam kecerian tersebut beliau mendapati ada sosok bocah kecil yang tidak ceria, bahkan ia menangis, anak tersebut kira-kira berumur 6 tahun. Beliau mengira bahwa ia adalah salah satu dari anak yatim kota tersebut lantas bergegas menghampirinya ingin mencari tahu penyebab kenapa ia tidak bermain dengan teman-teman sebayanya. Kemudian beliau bertanya, “wahai mengapa engkau tidak bermain ?. bocah itu terdiam. Lalu beliau mengualangi pertanyaan tersebut sebanyak tiga kali. Lalu anak itu menjawab, “wahai paman ; aku tidaklah diciptakan untuk bermain”. terperanjatlah Asmu’I mendengar jwaban yang jauh dari dugaan sebelumnya, beliaupun langsung menangis tersedu-sedu mendengarkan jawaban anak tersebut seraya berkata untuk keduakalinya. Wahai anakku, engkau masih kecil, tiada hisab atas segala perbuatanmu wahai anaku. Anak tersebut menjawab, “wahai pamanku, saya telah melihat ibu menyalakan appi dengan kayu kecil, kemudian ibu meletakkan lagi kayu yang lebih besar diatasnya, maka membesarlah api tersebut. Asmu’I pun semakin keras menangisnya.
“wahai anakku, jadi apakan yang akan engkau lakukan dalam hidupmu wahai anakku…?
“Sungguh aku telah mengetahui bahwasannya setiap detik-detik umurkunlebih berharga dari dunia dan seluruh isinya, karena itulah aku akan menggunakan umurku hanya untuk sesuatu yang lebih berharga dari dunia dan seisinya”.

Lalu sadarlah Asmu’I akan keberadaan anak tersebut, anak tersebut bukan lah anak biasa. Kemudian ia bertanya kepadanya, “wahai anakku siapakah gerangan engakau…?.
“saya adalah Ali bin imam Husein yang hingga sekarang beliau dikenal dengan sebutan ;zainal Abidin ; orang yang selalu beribadah, Zainal ibad; Zain as sajjad dan lain-lain julukan indah disematkan kepada beliau. Subhanalloh.