Alaa lillahi ad dinu al kholish
Agama tdak bisa dikatakan sempurna kemurnianya kecuali telah terpenuhi setiap tingkatannya. Begitupula setiap bangunan tidak akan bisa dikatakan bangunan sempurna, kecuali telah terpenuhi masing-masing komponennya,
Tingkatan beragama terbagi menjadi tiga bagian pokok penting yaitu :
1. Sesuatu yang berhubungan dengan hamba secara lahiriah
2. Sesuatu yang berhubungan dengan hamba secara bathini
3. Sesuatu yang berhubungan dengan hamba secara ruhi.
Seorang hamba jikalau melakukan ritual ibadah jasmani (badaniah) sedangkan hatinya masih lalai, maka ia masih dianggap lalai, begitupun selanjutnya jikalau hati ssudah dapat khusyu namun ruhnya lalai dalam menjalankan ibadah maka kembali masih dianggap lalai. Jaid seharausnya seorang hamba dikala melakukan ibadah hendaknya ia selalu menghadirkan Alloh SWT secara keseluruhan baik jasad hati dan ruh secara bersamaan.
Definisi AD-DIN ( Agama)
Menurut para Ulama tasawwuf beliau menggambarkan sebagaimana Alloh SWT adalah Ad dain; Sang pemberi hutang, sedangkan manusia adalah al Mudayyin ; pihak yang berhutang kepada Alloh SWT. Untuk lebihjelasnya marilah kita simak sebuah cerita berikut ini.
Terdapat beberapa sahabat pernah berbincang dengan nabi Muhammad Saw, Wahai nabi, ayahku adalah orang yang kaya, namun beliau mendadak meninggal sebelum beliau melaksanakan haji, bagiaman ini wahai Rasul?. Sahabat lain pun bertanya pula, Wahai rasul ayahku juga telah wafat, namun terdapat 2 hari, dimana beliau tidak melaksanakan Shalat fardhu. Wahai Rasul bagaimana saya menyikapi hal tersebut?. Sahabat yang ketiga pun tidak ketinggalan bertanya kepada beliau, wahai rasul ayahku telah meninggal dunia namun beliau belum sempat menunaikan segala piutangnya, bagaimana ini Rasul?. Rasul SAW menjawab : Apakah kalian tahu siapakah yang behak mewarisi harta ayah kalian yang telah meninggal dunia?. Mereka seraya menjawab; tentu kami yang mewarisinya.Rasul bertanya lagi, andai ayah kalian memiliki hutang, maka siaakah yang berkewajiban menyelesaikan segala piutangnya?. Kami semua wahai Rasul. Lalu Rasul bersabda: “Dinulloh ahaqq an yuadda” Hutang terhadapa Alloh justru lebih berhak ditunaikan terlbih dahulu dari pada yang lain.
Menurut pendapat mazhab malikiyah, mereka membolehkan penanggungan tعrhadap segala hutang sang ayah dilakukan oleh anak-anaknya, seperti melaksanakan kewajiban yang penah ditinggalkan oleh sang ayah seperti: Shalat, puasa, zakat, Haji. Hal ini diperkuat hadis rasul dikala beliau enggan melaksanakan shalat mayyit, hingga segala hutang sang mayyit telah ditanggung oleh ahli warisnya.
Syari’ah dan thaiqoh adalah dua perkara yang tidak dapat terpisahkan, keduanya terbang ke angkan berkumpul dan saling menyempurnakan. Ia ibarat dua belah sayap yang saling menguatkan hingga dapat menerbangkan sang burung terbang ke angkasa luas, sag burung itu adalah tasawwuf yang merupakan sarana untuk dapat mendekatkan diri kehadiratnya yang maha tunggal.
Tidaklah menghrankan jikalau ada suatu kelompok manusia yang tidak melaksanakan keduanya secara bersamaan bahkan merkea telah mengatakan “ kamilah yang telah melaksanakan syari`at secara sempurna, karena itu kami tidak perlu lagi melaksanakan shalat pusa, zikir dan sebagainya, karena keseharian kami telah menyatu dengan apa yang dikehendaki oleh Nya.” Nauzdu billah min dzalik.
Padahal banyak sekali tuntunan al Qur`an dan hadist yang mengajarkan kita perlunya memahami tasawwuf (beribadah) dengan sempurna tanpa melalaikan satu yang penting diantara dua ; syari`ah dan thoriqoh.
- Ya ayyuha alladziina amanuu sholluu `alaihi wasallimuu tasliima….(alloh menegaskan agar manusia banyak bershalawat kepada rasul, mengapa demikian, sehebat apaka beliau, ada apa dengan beliau, apa yang beliau lakukan selama hidupnya,perkataanya , amaiyahnya, syariat beribadahnya. Pantaslah kita sebagai uma Muhammad selalu menujunjung beliau dengan mempelajari semua amaliahnya dan mengikuti apa saja yang telah beliau ajarkan kepada para sahabat, hingga sampai kepada kita sekarang.
- Laqod kaana lakum fi rosulillah uswatun hasanah liman kana yarju alloh wal yauma al akhir.
- Fasaluu ahla azd dzikri inkuntum la ta’lamuun …..alloh swt menjaga umat manusia dengan mengutus para rasul pada setiap uamat dikala kerusakan ada dimana-mana, setelah rasul Muhammad wafat, kemudian peranan beliau beralih kepada ulama sebagai pewaris mutlak tugas risalah dengan kata laian seorang ulama yang benar berhak mewarisi semua kemampuan yang dimiliki rasu haruslah dapat dilihat dengan cirri-ciri yang menempela pada diri seorang ualam, apakah beliau telah memeiliki cirri-ciri yang sama, sebagaimana dimiliki oleh rasul. Karena seorang pewaris tentu akan memiliki harta dan kekuasaan yang sama besarnya sebagaimana yang dimiliki oleh sang ayah. Rasul adalah ibarat ayah, dan ulama adalah anak, rasul mengetahui segala hal tentang islam, ilmu beliau tanpa batas, beliau mengetahui Alloh dengan detail, beliau tidak berguru kepada manusia, ilmu belia adalah ilham dari Alloh melalui jibril AS, ilmunya tidak pernah habis karena selalu di cash ;ibarat baterai cash, yang selalu menempel dengan listri yang tidak akan habis guna. Itulah cirri-ciri ulama yang menggantikan posisi pengemban risalah rasul. Madad ya syekh maulana mukhtar ad dasuqi.
Banyak sekali hadist yang menerangkan bahwasannya rasul yang telah mendapat garansi masuk surge namun amaliah beliau semakin bertambah, terbukti luka memar kaki nabi karena lama ibadah malam beliau dalam melaksanakan shalat. Subhanaalloh. Bukankah ini bagian dari syari`at!!!!!!!!
Syari`at adalah segala ucapan dan perbuatan rasul, hingga menuup kemungkinan bagi umat Muhammad utuk tidak melakukan rutinitas amaliyah yang tela dilaksanakan oelh rasul saw.
- Rasul bersabda : barang siapa mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui, maka Alloh akan mewariskan ilmu yang belum ia ketahui sebelumnya. man amila bima alima, awrotsa allohu ilma ma lam yakun ya’lam. Lafazd amila dalam hadist adalah artikulasi dari makna thoriqoh (jalan, tatacara), sedangkan kat ilmu adalah manifestasi dari pengertian syari’ah, dan terakhir ilmu ma lam yakun ya’lam ,adalah hakikat ”buah” dari sebuah perjalanan awal kemudian dikuti dengan bagaimana menggunakan jalan tersebut hingga pada akhirnya akan sampai kepada suatu tujuan dari sebuah akhir perjalanan.
- Alloh berfirman : ittaquu alloha wa yu’allimukum allohu. Bertakwalah kalian dengan takwa yang sebenarnya, Alloh akan mengajarkan kalian.
Diceeritakan sayyid Muhammad al bakri, bliau adalah seorang syaikh al azhar (pemimpin tertinggi ulama Al Azhar Mesir) pada waktu itu, yang sekaligus seorang mufti dan imama besar masjid sayyidina husain yang terletak tepat berhadapan dengan masjid al azhar (sekarang). Beliau juga seorang sufi ahli thoriqoh, beliau meninggalkan seorang putra yang masih kecil bernama Mustafa al bakry, setelah sepeninggal sang ayah Mustafa kecil dalam kesehariannya tidak pernah lepas dari bermain layaknya seorang bocah, namun pada suatu ketika sang ibu bertkata kepadanya ;
“ wahai anakku, ayahmu adalah seorang ulama besar yang alim, beliau adalah panutan ummat, anakku Mustafa, bisakah engkau mengikuti dan mejadi seperti beliau, dan meninggalkan aktifitas bermainmu wahai anakku…..”
“kemudian Mustafa kecilpun segera masuk rumah, namun ia bergegas mengenakan baju kebesaran saying ayah, layaknya seorang ualama besar, lantas pergi menuju ruang khudaiwy yang telah dipenuhi sekumpulan pembesar ulama pada waktu itu. Tentu saja dengan melihat kejadian dengan kedatangana sang bocah dengan mengenakan baju kebesaran sang syekh, seluruh pandangan trtuju kepada Mustafa kecil, seraya mengingat memeori sang syekh dikala masih hidup, lalu mereka pun menangis tersedu-sedu, haru dan sedih akan nasib yang ditimpa oleh Mustafa kecil.
“Lalu merekapun bertanya kepadanya ; wahai anakku, apa sebab yang telah membawamu hingga engkau dating kemari?”
“Mustafa mejnawab : wahai paman saya mendengar bahwa kalian berkumpul di tempat ini ingin membahas tentang kelanjutan tugas-tugas ayahku yang belum terselesaikan, benarkan demikian wahai paman?”
“benar wahai anakku “ jawab mereka.
“kalau memang demikian tolbong berikan saya meja dan kursi, lalu duduklah ia di atasnya, namun tiba-tiba ia berkata kepada hadirin “ sesungguhnya zatku adalah zatnya ayahku, dan saya memiliki ilmu yang dimiliki oleh ayahu” . serentak jamaah yang hadir terheran-heran akan ucapan Mustafa kecil tersebut, sambil berkata kepadanya mengeaskan, wahai anakku benarkah yang engakau katakana?. Tanpa menjawab kemudian Mustafa memualai membuka pengajian sebagaimana yang diajarkan oleh sang ayah seperti ilmu hadist, ta`wil, mereka pun makin terpukau dengan umurnya yang masih belia, namun telah memiliki kemampun bak ulama besar. Sebagian dari sya’ir nya yang masyhur adalah :
Ma kullu ilmin yustafadu dirosatuhu * la siyaman ilmuna az zahru al wahbiyyu
“Tidaklah semua ilmu hanya bisa dicari dengan mempelajarinya, namun ilmuku adalah pemberian dari sang maha mengetahui”.
0 komentar:
Poskan Komentar